Posted in Ordinary

View on Path

Advertisements
Posted in Ordinary

View on Path

Posted in Diary, Perjalanan hidup

Janji tetaplah janji

Kusematkan janji ini dengan Nya, dan takkan mungkin aku ingkari

Aku tahu pada akhirnya, luka itu pasti menyakitkan. Seperti hal nya luka pada badan kita. Perih. Namun aku yakin, saat melihatnya tersenyum bahagia dengan pilihannya. Luka itu akan terobati perlahan. Seperti layaknya obat merah.

Pernah juga terlintas dalam benak ku, “apakah kamu gak ingin berkontribusi untuk kebahagiaannya?”. Jawaban hatiku, pasti semua orang ingin membuat bahagia orang yang memenuhi sebagian besar pikiran dikepalanya. Namun kenyataan terkadang memberikan fakta menarik. Bukan kita sumber kebahagiaannya. Bukan kita yang bisa membuatnya selalu tersenyum bahagia. Saat kenyataan itu menyentuh logika, yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah melihatnya tersenyum bahagia dari kejauhan dengan goresan luka yang dengan alami muncul pada hati.

Saat ini aku hanya berharap bisa memenuhi janjiku, dan saat itu tiba aku akan bisa membuka lembaran kisah baru bersama hati yang memang tercipta untukku. Dan aku akan menatap hari ini dengan senyum, karena aku pernah memiliki hati untuknya. Seseorang yang pernah menorehkan tinta di hatiku. He’s great man. Dan Mahal. Hehe.